Kebangkitan kembali Nalanda University sering memunculkan pertanyaan mengapa India tidak melakukan hal serupa terhadap madrasah-madrasah (kurikulum nizhamiya) besar era Kesultanan Delhi dan Kekaisaran Mughal. Padahal pada masanya, lembaga-lembaga tersebut juga menjadi pusat ilmu pengetahuan yang melahirkan ulama, cendekiawan, hakim, astronom, dan birokrat.
Salah satu alasannya adalah karena Nalanda dikenal sebagai satu institusi besar yang memiliki identitas jelas sejak masa kuno. Sementara pendidikan Islam di India abad pertengahan lebih berkembang melalui jaringan madrasah, masjid, khanqah, dan halaqah para ulama yang tersebar di berbagai kota. Tradisinya hidup, tetapi tidak selalu terikat pada satu kampus tunggal.
Madrasah-madrasah terkenal seperti Madrasah Hauz Khas, Madrasah Rahimiyah, atau Madrasah Ghaziuddin Khan memang pernah menjadi pusat pembelajaran penting. Namun sebagian bangunannya telah rusak, berubah fungsi, atau tidak lagi memiliki kesinambungan kelembagaan yang utuh seperti yang dimiliki Nalanda dalam ingatan sejarah modern India.
Keadaan tersebut sebenarnya mirip dengan perkembangan pendidikan Islam di Nusantara. Pada masa awal penyebaran Islam, proses belajar tidak selalu berlangsung di kompleks pesantren besar. Banyak pengajian berlangsung dalam bentuk halaqah di rumah ulama, surau, langgar, atau masjid yang menjadi pusat pendidikan masyarakat setempat.
Di wilayah Tapanuli misalnya, tradisi belajar agama selama berabad-abad berlangsung di masjid dan madrasah-madrasah (disebut mendersa) sederhana yang menyatu dengan kehidupan kampung. Para murid tinggal di sekitar guru atau datang dari desa-desa lain untuk mengikuti pengajian kitab, sebagaimana terjadi dalam tradisi pendidikan Islam di berbagai wilayah dunia Islam.
Meski demikian, Nusantara juga mengenal lembaga pendidikan Islam yang lebih terorganisasi sejak masa awal. Salah satu yang sering disebut adalah Dayah Cot Kala di Aceh yang menurut sejumlah tradisi lokal telah berkembang sejak sekitar abad ke-9 atau masa-masa awal Islamisasi kawasan tersebut. Lembaga seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam Nusantara tidak hanya berbentuk halaqah kecil, tetapi juga memiliki pusat studi yang cukup besar.
Contoh lain adalah Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu di Kebumen, Jawa Tengah. Pesantren ini dikenal luas sebagai salah satu pesantren tertua di Jawa dan disebut didirikan pada tahun 1475 oleh Sayyid Muhammad Isa. Dengan usia lebih dari lima abad, Somalangu menjadi salah satu bukti kesinambungan pendidikan Islam yang panjang di Nusantara.
Menariknya, pesantren-pesantren Nusantara yang bertahan hingga sekarang tidak selalu bertahan karena bangunan aslinya tetap utuh. Yang bertahan justru jaringan keilmuan, sanad guru, tradisi pengajaran, dan identitas lembaganya. Bangunan dapat berubah berkali-kali, tetapi lembaganya tetap hidup.
Fenomena serupa sebenarnya terjadi pada warisan pendidikan Islam India. Meskipun banyak madrasah Kesultanan Delhi dan Mughal tidak lagi beroperasi di bangunan aslinya, tradisi intelektualnya diteruskan oleh lembaga-lembaga yang lebih muda seperti Darul Uloom Deoband, Nadwatul Ulama, dan Aligarh Muslim University.
Karena itu, perbedaan antara Nalanda dan madrasah-madrasah Islam India bukan semata-mata soal penting atau tidak pentingnya warisan tersebut. Nalanda dihidupkan kembali sebagai simbol sebuah institusi kuno yang telah lama hilang, sedangkan tradisi pendidikan Islam India dan Nusantara pada umumnya tidak benar-benar hilang. Ia terus hidup melalui guru, murid, pesantren, dayah, surau, dan madrasah yang berkembang dari generasi ke generasi, meskipun sering kali tidak lagi menempati bangunan tempat semuanya bermula.














