Masukkan Iklan Gratis Anda di Sini

Ingin membuat iklan secara gratis? masukkan di Sini..

Daftar restoran halal di tanah Batak

Temukan rahasisa tersembunyi benua Afrika di Sini

Berita Pertanian

Temukan seluk beluk pencapaian sasembada pangan Indonesia

Indonesia Jelajahi Ruang Angkasa

Klik di Sini, untuk melihat misi ruang angkasa Indonesia

Jelajahi Indonesia dalam Satu Portal

Lihat berita terkini Indonesia di Sini

Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Tuesday, February 11, 2020

Politik Babi Penjajah Belanda dari Buku Aqib Suminto

Politik Hindia Belanda/Aqib Suminto


WARDES -- Berikut cuplikan dari buku di atas

...Asisten Residen Fraser mengusulkan dibentuknya koperasi antar sesama orang Batak yang tidak menentang kehadiran penjajah saat itu, di samping menganjurkan agar peternakan babi digalakkan di sana. Saran semacam ini pernah dikemukakan pula oleh seorang tokoh Lembaga Bijbel pertengahan abad lalu, yang ditujukan kepada propagandis Kristen di tanah Batak.
Dia adalah H.N. vander Tuuk yang pada tahun 1851 sampai tahun 1857 menetap di tanah Batak sebagai petugas dari Lembaga Bijbel. Ia memberikan beberapa saran, bagaimana seharusnya petugas Kristen bersikap di tanah Batak, yaitu:
1. Harus disebut Guru, bukan pendeta atau paderi; karena istilah pendeta kurang disukai, baik orang Eropa maupun orang Batak.
2. Harus kawin dengan wanita Eropa, karena pembicaraan antara wanita lebih intim dan seorang wanita lebih berpengaruh daripada pendeta biasa.
3. Harus mendapat gaji yang baik, lebih tinggi dari gaji pegawai pemerintah.
4. Harus berpakaian seperti biasa, tidak memakai jas hitam pendeta.
5. Harus bisa menerima gaji dengan mudah, tanpa dipotong dua setengah persen.
6. Langsung masuk daerah Batak, tidak perlu lama-lama menunggu di Padang agar cepat bisa berbahasa Batak.
7. Harus tinggal jauh dari orang Eropa, karena mereka pada umumnya tidak akrab dengan pribumi.
8. Dalam taraf permulaan hanya omong-omong, secepat mungkin mengajar agar bisa cepat belajar bahasa pribumi. Hanya mengajar kalau diminta oleh mereka.
9. Bersama murid-murid sekolah, harus membaca cerita Batak, baru kemudian membacakan Bijbel.
10. Harus bergaul akrab dengan orang Batak, tapi jangan meminjam uang.
11. Hendaknya tidak menerima hadiah, karena dia harus memberikan hadiah.
12. Hendaknya tidak menghina orang Islam, tapi harus menunjukkan orang kafir sama baiknya dengan orang Islam.
13. Andaikata mengetahui ilmu teknik, harus mengajarkan ilmu tersebut hanya kepada orang bukan Islam.
14. Sebagai peternak harus memelihara babi.
15. Andaikata mempunyai anak, harus hati-hati agar mereka tidak menghina pribumi.
16. Dalam pelaksanaan vaksinasi hendaknya jauh dari pengawasan pegawai, Karena semua pegawai yang beragama Islam, biasa mengucapkan: "Jangan makan babi lagi" setelah memberikan suatu suntikan.
17. Hendaknya tidak menggunakan pemadat sebagai pembantu atau murid.
18. Andaikata memiliki toko, dia tidak hanya akan mendapatkan banyak uang, tapi juga pengaruh yang cukup besar.
Sumber Lihat: R. Nieuwenhuys, H.N. van Der Tuuk: De, Pen in Gal Gedoopt, (Amsterdam, 1962) hal: 81-84.
Pada tahun 1919, pihak zending mengeluarkan brosur dalam dialek Angkola berjudul Ulang Hamu Lilu (jangan sesat), untuk memperkenalkan Islam secara negatif kepada orang Kristen Batak, berdasarkan buku-buku Gottfried Simons yang biasa menentang Islam.
Gottfried Simons adalah seorang zendeling Jerman yang pernah bertugas di Sumatera dari tahun 1896 sampai tahun 1907, dikirim oleh RMG (Rheinische Mission Gesellschaft). Karyanya antara lain;
1. Islam und Christentum im kampf um die Eroberung der animimistischen Heidenwelt, beobachtungen aus der Mohammedaner-Mission in Biederlandisch-Indiesn, (Berlin 1910); (Islam dan Kristen dalam Perjuangan di dunia Animis; Tinjauan zending terhadap orang Islam di Hindia Belanda).
2. Unter den Muhammedanern Sumatras, (Berlin, 1926).
3. Reformbewegungen in Islam (Artikel)

Tuesday, March 19, 2019

Presiden Jokowi akan Tonton Langsung Piala Presiden 2019

ilustrasi
WARDES -- Penyelenggaraan Piala Presiden 2019 memasuki babak perempat final yang akan diselenggarakan pada 29-31 Maret 2019. Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2019, Maruarar Sirait mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana untuk menonton langsung laga selanjutnya Piala Presiden 2019.

"Beliau (Jokowi) minta maaf belum sempat hadir pada acara pembukaan (Piala Presiden 2019) dan berencana untuk hadir dalam final dan pertandingan delapan besar atau semi final," kata Maruarar pada konferensi pers drawing babak perempat final Piala Presiden 2019 di ruang media Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Selasa (19/3).

Pria yang kerap disapa Ara ini meminta kepada pihak penyelenggara, Organizing Committee (OC) maupun Steering Committee (SC) untuk memberikan rekomendasi pertandingan yang cocok untuk dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Selain itu, kata dia, Jokowi berpesan agar kompetisi Piala Presiden berlangsung dengan fair play dan bersih dari pengaturan skor.
ilustrasi

"Saya minta betul pihak kepolisian untuk bisa bekerjasama dengan OC agar fair play betul-betul terjadi," ujarnya.

Pada babak perempat final Piala Presiden 2019, Persija Jakarta akan bertemu dengan tim promosi Kalteng Putra. Persebaya Surabaya akan bertemu Tira Persikabo pada perempat final, kemudian Persela Lamongan menghadapi Madura United, dan terakhir Bhayangkara FC meladeni Arema FC.

Babak perempat final sendiri akan berlangsung pada 29-31 Maret 2019. Selanjutnya, semifinal akan diselenggarakan pada 02-06 April 2019 dan partai puncak pada 09-12 April 2019.


More

Tuesday, January 29, 2019

Ahmad Dhani Kembali Menjadi Topik Hangat Media

ilustrasi
WARDES -- Ahad Dhani kembali menjadi topik media hanya usai vonis oleh pengadilan. (baca di sini selengkapnya).

Tahun lalu, Dhani sering tampil di media membahas berbagai isu. Berbagai videonya sempat viral di Youtube dan menjadi tontonan.

Berikut di antaranya:

Wednesday, July 11, 2018

Bursa #Capres/#Cawapres2019, TGB Bertemu Said Aqil di Kantor PBNU

ilustrasi
WARDES -- Tuan Guru Haji (TGH) Zainut Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) bersilaturahmi ke kantor PBNU. Bersama pengurus PBNU, TGB membahas kondisi kekinian Indonesia.

Pertemuan ini diunggah di akun Instagram TGB. Dia mengatakan poin yang dibahas ialah kekompakan dan persatuan umat.

"Silaturrahim membahas beragam persoalan terkait situasi dan kondisi terkini bangsa, yang sedang dinamis pasca-pilkada serentak 2018 dan menjelang Pemilu 2019. Kekompakan dan persatuan umat, adalah perhatian besar perbincangan santai kami sore ini," demikian keterangan gambar seperti dilihat, Selasa (10/7/2018).

Dia melanjutkan diskusi menaruh perhatian pada polarisasi dan fragmentasi sebagai residu politik Pemilu 2014 dan Pilkada DKI Jakarta. Diharapkan, Indonesia semakin dewasa di kehidupan politik.

"Kami berharap kelancaran dan kedamaian berkat kedewasaan berdemokrasi publik Indonesia yang berlangsung di berbagai wilayah selama Pilkada Serentak 2018, akan berlanjut di Pemilu 2019," tuturnya.

Selain itu, mereka berharap kedewasaan politik itu tercermin dalam prinsip fastabikhul khoirot (saling berlomba-lomba dalam kebaikan) dan lita'arafu (saling mengenal, berinteraksi dan belajar).

Pertemuan berlangsung pada sore hari tadi di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakpus. TGB datang ke PBNU bersama Zulkieflimansyah, Gubernur NTB yang menang berdasarkan hasil rekapitulasi KPU.

Diketahui, Zulkieflimansyah berpasangan dengan Siti Rohmi Djalilah yang tak lain merupakan kakak kandung TGB.

Mereka sowan dengan Ketua Umum PBNU Pusat KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU KH Helmi Faisal, Ketua PBNU KH Marshudi Suhud, KH Robikin Emhas serta pengurus PBNU lainnya.


More

Sunday, February 12, 2017

Kisah Makar Pemuda Minahasa, Daniel Maukar, Pilot TNI yang Menembaki Istana untuk Membunuh Presiden RI

WARDES -- Kisah Daniel Alexander Maukar membuat dunia tercengang. (baca) Segenap bangsa Indonesia dibuat panik oleh aksi berani, patriotik, dan gentleman dengan semangat membara keminahasaannya.

Suatu pagi cerah, Rabu 9 Maret 1960, sekitar jam 9.00 WIB, pilot muda ini tampak hilir mudik gelisah di depan hanggar pesawat Lanud Hussein Sastranegara, Bandung. Daniel Alexander Maukar akrab dipanggil Daantje, tampak berjalan ke arah pesawat tempurnya. Beberapa kali ia memeriksa kanon berisi peluru ukuran 23 mm di pesawat Mig-17. Lelaki tampan, tegap, berkaca mata hitam ini berkali-kali mengusap jambul rambutnya.

Sesaat sebelum naik ke pesawat, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memanggilnya. “Daantje…,” suara Molly Mambo, gadis cantik asal Kawanua. Daantje pun menoleh dan langsung mendapati kecupan bertubi-tubi dari pujaan hatinya. “I love you,” kata Molly. Daantje membalas kecupan Molly dengan bibir tersenyum, katanya lembut, “I love you, too Molly…”.

Lalu ia melompat ke cockpit Mig-17, pesawat tempurnya untuk menjalankan misinya. Daantje, pilot terbaik yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Catatan manuvernya dibawah sedikit dari kepiwaian pilot Leo Wattimena pentolan terbaik Amerika Serikat. Kemampuan bermanuver pemuda Minahasa ini, banyak membuat kagum petinggi AURI (Angkatan Udara RI, sekarang TNU AU) saat itu. Ia mampu memanuver pesawat tempur dalam kecepatan tinggi hanya berapa meter di antara pepohonan kelapa.


More

Thursday, February 9, 2017

Bagaimana Jika Kekaisaran Nippon Jepang Bertahan Sampai Sekarang, Bagaimana Nasib Indonesia?

WARDES -- Sebuah video di Youtube membuat skenario, bagaimana jika Kekaisaran Nippon Jepang bertahan sampai sekarang?

Hasilnya cukup menarik. Disebut dengan menguasai Indonesia saja sebenarnya bagi Jepang sudah cukup untuk menguasai dunia dan menjadi kekuatan superpower ketiga di dunia.

Selain itu Nippon dan Jepang akan menjadi kekuatan ekonomi Super Power.

Berikut videonya

Persekusi terhadap Muslim oleh Kaum Buddha Bukan Hanya Rohingya, tapi dari Zaman Jengis Khan

WARDES -- Persekusi terhadap kaum Muslim oleh kalangan Buddha sebenarnya tidak terjadi kepada kaum Rohingya saja, di Myanmar sekarang.

Jauh sebelumnya, Jengis Khan, pemimpin Mongol sudah melakukannya terhadap wilayah Khawarijmi sebelum keturunanya kemudian menghancurkan Baghdad.

Mereka hanya bisa dihentikan oleh pasukan Mamluk dari Mesir. Sebagian wilayah Myanmar sebelumnya masuk dalam kekuasaan Mongol, Jengis Khan.

Tapi sejarah kemudian bertukar ketika keturunanya mulai dari Ghazan mulai memeluk Islam.

Selain itu, di beberapa wilayah Buddha di abad pertengahan juga melakukan persekusi terhadap pemeluk Islam dalam kehidupan sosial, seperti di Tiongkok, Tibet, ASEAN dan lain sebagainya di abad pertengahan.

Baca: Kesultanan Islam Yunnan di Tiongkok

Sunday, May 13, 2007

Sisingamangaraja XII

11 Mei 07 23:52 WIB
Sisingamangaraja XII Kental Pengaruh Islam
Medan WASPADA Online


Sejarawan dan pengamat politik Universitas Sumatera Utara, Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum, mengatakan kebudayaan pada masa Sisingamangaraja XII, sangat kental dipengaruhi unsur Islam.
"Hanya saja menurut beberapa literatur sejarah, saat itu Sisingamanagaraja XII belum menganut satu agama samawi (agama dari langit) apapun," kata Wara yang juga dosen sejarah di Fakultas Sastra USU, di kampus tersebut, Kamis (10/5).

Wara menjelaskan, di beberapa literatur sejarah, Sisingamangaraja XII dijelaskan sebagai seorang raja yang tinggal di daerah Bakkara, pinggiran Danau Toba, dan masih menganut kepercayaan Parmalim (kepercayaan tradisional masyarakat Batak).

Hanya saja, katanya, kepercayaan yang dianut Sisingamangaraja XII itu sangat kental pengaruh unsur Islamnya. Hal itu bisa dilihat pada gambar stempel, bendera kerajaan dan pedang yang digunakannya saat itu, banyak ditemukan nuansa kebudayaan Islam.

"Bahkan, banyak doa-doa dalam kepercayaan itu yang dimulai dengan kata Bismillah (dalam bahasa Arab artinya dengan menyebut nama Allah SWT). Padahal kata itu tidak ada dalam bahasa Batak.

Ditambahkannya, dalam salah satu buku sejarah berjudul Ahu Sisingamangaraja XII, yang ditulis oleh sejarawan H. Mohammad Said juga dijelaskan bahwa saat itu memang ada pengaruh unsurunsur Islam. Tetapi tidak disebutkan secara jelas apakah salah seorang pahlawan nasional dari Batak itu sudah menganut agama Islam atau belum.

Wara menjelaskan, sebagai seorang sejarawan, dia tidak heran kalau saat itu kebudayaan Sisingamangaraja XII sangat kental dengan unsur Islam. Sebab, kerajaan Sisingamangaraja memang melakukan koeksistensi dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, seperti Aceh, Karo dan Dairi. "Jadi wajar juga kalau Sisingamangaraja kemudian meninggalnya di daerah Dairi," jelasnya.

Menurut Wara, koeksistensi ini bertujuan untuk menggalang kekuatan lintas etnik dengan kerajaan-kerajaan sekitar untuk melawan kekuatan yang lebih besar, seperti kolonial Belanda. Ataupun untuk menjaga hubungan yang kurang harmonis antara dua kerajaan yang mempunyai kekuatan setara.

Dijelaskannya, koeksistensi biasanya dilakukan dengan cara mengawinkan para keturunan raja dengan putra mahkota atau putri dari kerajaan lain. "Seorang putri Sisingamangaraja ada yang menikah dengan Raja Sarinembah dari Tanah Karo," katanya.

Sehingga bisa, saja saat kerajaan Sisingamangaraja XII melakukan koeksistensi dengan kerajaan Aceh, pengaruh budaya-budaya Islam masuk dalam budaya mereka. Apalagi secra geografis, letak kerajaan Sisingamangaraja XII berdekatan dengan Barus dan Aceh yang dikenal sebagai daerah tempat berkembangnya agama Islam di Indonesia.

"Namun begitu, tetap saja belum ada buku maupun bukti otentik yang menyatakan agama samawi apa yang dianut Sisingamangaraja XII," jelas Wara.

Masih Misteri
Secara terpisah, Budayawan Sumatera Utara Z. Pangaduan Lubis kepada Waspada, Kamis (10/5), mengatakan sejarah tentang Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII hingga saat ini masih meninggalkan misteri. Terutama pada sosok pribadinya, ada sebagian masyarakat beranggapan dia suku Aceh dan beragama Islam. Sebagian lagi meyakini dia orang Batak dan beragama Parmalim dan juga Kristen.

Hal tersebut disampaikannya sehubungan masih banyak pendapat berbeda di masyarakat tentang sosok pahlawan ini, di tengah adanya kabar akan diselenggarakannya peringatan 100 tahun Sisingamangaraja XII.

Mantan penyiar RRI siaran berbahasa Inggris dan pengamat sejarah berusia 70 tahun ini mengakui, sampai hari ini pendapat wartawan dan sejarawan senior H. Mohammad Said (alm) tentang Sisingamangaraja "identik" dengan Islam masih diyakini banyak orang.

Lubis mengungkap, tulisan tentang Sisingamangaraja XII " identik" dengan Aceh dan Islam pernah dimuat di Harian Waspada namun akhirnya disensor pihak berwenang. "Saya tak ingat betul tahun dan bulannya, tapi waktu itu Pangkopkamtib-nya Soedomo," kenangnya

Sejak itulah, sebut sastrawan yang pernah memimpin Teater Nasional dan mendirikan Teater Integro di era 80-an ini, pendapat H. Mohammad Said membelah dua pandangan dan pengetahuan masyarakat secara luas terhadap sosok Sisingamangaraja XII. Kemudian, lanjutnya, pendapat wartawan senior pendiri Harian Waspada soal Sisingamangaraja itu tertuang dalam dua judul buku yang pernah terbit sekitar tahun 70-an. Dua buku itu antara lain; Sisingamangaraja XII dan Aceh.

"Dalam buku itu jelas diungkap bahwa ada keidentikan Sisingamangaraja dengan Aceh atau Islam," tegas Lubis.

Sebagai seniman dan dosen luar biasa di Fakultas Sastra USU, Lubis sependapat dengan H. Mohammad Said soal Sisingamangaraja XII. Lubis mengurai, dari lambang di bendera, bendera Sisingamangaraja "identik" dengan bendera Sultan Iskandar Muda dari Aceh. "Hanya letak dua pedang yang berbeda. Satu horizontal dan satu lagi vertikal," jelasnya.

Pada masa melawan penjajah, Aceh pernah membantu Sisingamangaraja XII. Andai Sisingamangaraja Parmalim. Ada sisi yang hampir menyamai dalam aturan Islam. Tak makan Babi, selalu membersihkan diri bila ingin beribadah. Kata "malim" dari Toba dan Mandailing berarti "alim". "Yang tidak bisa dibantah dan diperdebatkan lagi adalah fakta bahwa Sisingamangaraja XII adalah pahlawan nasional, namun dari kolektifitas sejarah masih banyak sisi yang penuh misteri," urai Lubis.

Soal apakah misteri sejarah ada dan bisa saja dilakukan kajian atau seminar terhadap keberadaan Sisingamangaraja XII, Sastrawan nasional Damiri Mahmud menilai hal itu sah-sah saja. Selagi masih ada kelompok masyarakat, ada pendapat berbeda soal sosok yang menjadi pelaku sejarah, kajian serta telaah yang lain perlu dipertemukan.

"Ada sebagian pendapat tak menemukan jejak apapun terhadap sebuah kedekatan Aceh atau Islam, ada lagi sebaliknya. Maka memang perlu dipertemukan para ahli yang berdiri pada kubu berbeda untuk menuntaskan misteri dalam sejarah itu," ujar Damiri.

Miliarder Batak

Berita Tarutung

Daftar Restoran dan Hotel Batak

Pesantren Berbagi

Lowongan

Artis dan Nasyid Daerah

TSCFWA

PESANTREN ANTARIKSA

ACDI

Biak Spaceport

CAR&AUTOnews

Falak dan Antariksa

Space Tourism

BARUSNews