Masukkan Iklan Gratis Anda di Sini
Ingin membuat iklan secara gratis? masukkan di Sini..
Daftar restoran halal di tanah Batak
Temukan rahasisa tersembunyi benua Afrika di Sini
Berita Pertanian
Temukan seluk beluk pencapaian sasembada pangan Indonesia
Indonesia Jelajahi Ruang Angkasa
Klik di Sini, untuk melihat misi ruang angkasa Indonesia
Jelajahi Indonesia dalam Satu Portal
Lihat berita terkini Indonesia di Sini
Monday, June 15, 2026
Myanmar Terbelah, Junta Hanya Berkuasa di 1/3 Wilayah
Friday, April 17, 2026
Aliansi, Vassal, dan Proxy Global
Tuesday, March 31, 2026
Motif Perang Iran Diyakini untuk Adu Domba Arab, Persia, Kurdi dan Turkiye
Thursday, March 26, 2026
Qatar tak Ingin Iran Dihancurkan Israel
Friday, March 20, 2026
Standar Ganda Eropa dalam Konflik Iran
Friday, February 13, 2026
Nasib Partai Politik Pasca‑Perubahan Politik di Bangladesh, Rusia dkk
Saturday, February 7, 2026
Peta Kurdi dan Politik Kabilah
Keberadaan bangsa Kurdi di Timur Tengah kerap dipersepsikan sebagai satu kesatuan homogen, padahal secara bahasa, sejarah, dan struktur sosial, Kurdi justru terfragmentasi dalam beberapa rumpun besar yang tersebar lintas negara dan kepentingan geopolitik.
Secara umum, para ahli membagi Kurdi ke dalam sedikitnya lima rumpun utama berdasarkan bahasa dan wilayah, yakni Kurmanji, Sorani, Pehlewani (Kurdi Selatan), Zazaki, dan Gorani. Dua rumpun pertama menjadi yang paling dominan secara demografis dan politik.
Kurmanji merupakan rumpun terbesar. Penuturnya tersebar luas di Turkiye tenggara, Suriah utara, Armenia, Azerbaijan, serta Irak bagian utara seperti Duhok dan wilayah Bahdinan. Kurmanji identik dengan struktur kabilah kuat dan tradisi milisi.
Di Turkiye, mayoritas Kurdi adalah Kurmanji, termasuk komunitas di Diyarbakir, Mardin, dan Van. Di Suriah, rumpun ini mendominasi wilayah Hasakah, Kobane, dan Afrin, menjadi basis sosial utama PKK dan cabangnya, PYD/YPG.
Sorani menempati posisi kedua terbesar. Rumpun ini tersebar di Irak tengah-utara seperti Erbil, Sulaymaniyah, dan Kirkuk, serta Iran barat. Sorani berkembang di wilayah urban dan menjadi bahasa administrasi di Kurdistan Irak.
Di Iran, Sorani hidup berdampingan dengan rumpun Kurdi Selatan atau Pehlewani yang tersebar di Kermanshah, Ilam, dan Lorestan. Pehlewani dikenal sebagai rumpun Kurdi tertua yang secara linguistik dekat dengan bahasa Iran kuno.
Selain itu terdapat Zazaki, yang banyak ditemukan di Turkiye timur seperti Dersim dan Bingöl. Status Zazaki kerap diperdebatkan, apakah bagian dari Kurdi atau bahasa Iranik terpisah, namun secara budaya penuturnya masih mengidentifikasi diri sebagai Kurdi.
Gorani atau Hawrami merupakan rumpun kecil yang tersebar di kawasan perbatasan Iran-Irak. Meski minoritas, Gorani memiliki peran historis besar sebagai bahasa sastra dan keagamaan di masa lalu.
Di Kaukasus, komunitas Kurdi Kurmanji masih ditemukan di Armenia dan Azerbaijan, sisa dari kebijakan migrasi era Tsar Rusia dan Uni Soviet. Meski jumlahnya kecil, mereka mempertahankan identitas Kurdi lintas generasi.
Keragaman rumpun ini menjelaskan mengapa politik Kurdi jarang bersatu. Perbedaan bahasa, agama, dan struktur sosial membuat kepentingan tiap wilayah sering bertabrakan, bahkan di dalam satu negara.
Di Irak, fragmentasi itu paling terlihat. Wilayah Kurdistan praktis terbagi dua rumpun kekuasaan besar yang berakar dari latar sosiologis berbeda, yakni kelompok Barzani dan Talabani.
Keluarga Barzani berasal dari rumpun Kurmanji dan berakar pada kabilah Barzan di wilayah pedesaan utara. Mereka membangun kekuatan politik melalui loyalitas suku dan kontrol wilayah, yang kini terwujud dalam Partai Demokrat Kurdistan (KDP).
Nama Barzani sering disalahartikan terkait dengan “Barzanji”. Secara etimologis, keduanya memang berasal dari kawasan Barzan, namun Barzanji lebih merujuk pada tradisi religius dan sastra maulid, bukan garis politik langsung.
Sementara itu, Talabani berasal dari rumpun Sorani dan latar belakang keluarga ulama perkotaan. Basis mereka berkembang di Sulaymaniyah dan Kirkuk, dengan pendekatan politik yang lebih ideologis dan koalisi lintas suku.
Dua rumpun kekuasaan ini membelah Kurdistan Irak secara de facto. Erbil dan Duhok dikuasai KDP-Barzani, sementara Sulaymaniyah menjadi basis PUK-Talabani, dengan orientasi eksternal yang berbeda pula.
Pembelahan ini bukan sekadar rivalitas personal, melainkan cerminan benturan dua model Kurdi: Kurdi kabilah pedesaan versus Kurdi urban-intelektual. Pola ini terus memengaruhi dinamika Kurdi di Suriah dan Turkiye.
Di Suriah, konflik antara PKK/YPG dan ENKS mencerminkan ulang pertarungan lama tersebut. PKK berakar pada Kurmanji militan, sementara ENKS dekat dengan garis Barzani dan tradisi Kurdi non-revolusioner.
Sementara di Iran, fragmentasi rumpun Kurdi justru membuat gerakan separatis sulit menyatu, karena Sorani, Pehlewani, dan Gorani memiliki orientasi politik dan keagamaan berbeda.
Keragaman rumpun Kurdi ini menunjukkan bahwa persoalan Kurdi bukan semata soal negara atau kemerdekaan, melainkan persoalan struktur sosial, sejarah lokal, dan warisan kabilah yang saling bertabrakan.
Dengan latar seperti itu, setiap upaya menyatukan Kurdi dalam satu proyek politik besar selalu menghadapi tantangan internal, bahkan sebelum berhadapan dengan tekanan negara-negara tempat mereka bermukim.
Realitas inilah yang membuat isu Kurdi terus menjadi salah satu teka-teki paling kompleks di Timur Tengah, di mana identitas bersama kerap kalah oleh sejarah perpecahan yang lebih tua dan mengakar.
Sunday, January 25, 2026
Klan Kurdi Tolak Agenda Separatisme SDF/PKK di Suriah
Friday, January 23, 2026
Kunci Semalka di Utara Suriah
Tuesday, September 9, 2025
Gaji Rendah dan Daya Tarik Jadi Tentara di Suriah
Masa Depan Gaji Pegawai di Perbatasan Suriah
Monday, September 8, 2025
Pemerintahan Baru Suriah Tampilkan Strategi Penanganan Properti Berbeda
Thursday, September 4, 2025
Jika Saja PM Terakhir Suriah era Assad Lebih Negarawan
Mengapa Pertahanan Suriah Lumpuh Pasca Assad Kabur?
Ada tanda bahwa kedua pihak, baik PM maupun oposisi, sama-sama berhati-hati. PM tidak ingin memberi kesan bahwa ia sedang menggerakkan militer melawan oposisi, sementara oposisi sendiri tidak ingin dianggap bersekongkol dengan sisa-sisa rezim Assad. Akibatnya, isu pertahanan udara yang sangat penting justru tidak mendapat perhatian. Mereka sama-sama fokus pada legitimasi politik, bukan kesiapan menghadapi ancaman eksternal.
Selain itu, ada dugaan kuat bahwa pengikut Assad yang masih menempati posisi vital di sektor pertahanan sengaja membubarkan diri. Mereka lebih memilih meninggalkan pos daripada berpotensi melayani pemerintahan baru. Kesetiaan mereka dianggap eksklusif kepada Assad, bukan kepada negara. Itulah sebabnya radar dimatikan, awak rudal pergi, dan pos komando udara kosong tanpa perlawanan.
Jika benar ada unsur kesengajaan, maka hal itu sejalan dengan pola “scorched earth” politik, yaitu meninggalkan kekosongan agar pemerintahan baru kesulitan membangun legitimasi. Apalagi memang ada sinyalemen sebagian militer Assad, khususnya dari sebagian kalangan Druze memang berkoordinasi dengan Israel dan SDF Kurdi di berbagai lokasi bahkan ada yang menyeberang ke perbatasan Irak. Pasukan Suriah di Qamishli, Hasakah memilih menyerah dan bergabung dengan SDF Kurdi.
Dengan pertahanan udara lumpuh, oposisi yang menguasai Damaskus akan menghadapi tantangan dari serangan udara Israel atau pihak luar, tanpa perlindungan memadai. Kondisi itu secara tidak langsung memberi pesan bahwa hanya Assad yang bisa menjaga kedaulatan.
Pada akhirnya, kombinasi dari kurangnya koordinasi antara PM dan oposisi, kehati-hatian politik, serta potensi sabotase dari loyalis Assad membuat pertahanan udara benar-benar kolaps. Bukan semata karena lemahnya struktur militer, tetapi juga karena pertarungan legitimasi yang begitu dominan. Dengan begitu, kejatuhan Damaskus tidak hanya simbol runtuhnya rezim, tetapi juga bukti bagaimana politik bisa melumpuhkan kekuatan militer yang seharusnya menjadi benteng terakhir negara.
Skenario
Kalau kita membayangkan skenario ideal, ada beberapa langkah yang seharusnya bisa dilakukan perdana menteri terakhir Assad untuk memastikan transisi kekuasaan berjalan mulus, sekaligus mempertahankan fungsi pertahanan udara dan laut.
Pertama, PM seharusnya segera mengambil alih otoritas penuh atas militer setelah Assad kabur. Walaupun secara formal jabatan panglima tertinggi ada pada presiden, dalam keadaan darurat ia bisa mendeklarasikan dirinya sebagai pengendali sementara untuk menghindari kekosongan komando. Langkah ini akan memberi kejelasan kepada tentara, bahwa masih ada figur negara yang sah untuk menerima perintah.
Kedua, ia perlu mengeluarkan dekrit khusus yang menekankan bahwa pertahanan udara dan angkatan laut tidak boleh berhenti beroperasi. Dekrit itu harus jelas: mereka tidak terlibat dalam konflik internal, tetapi hanya difungsikan untuk melindungi negara dari ancaman eksternal, terutama serangan udara Israel. Dengan perintah seperti ini, moral prajurit bisa dipulihkan karena tugasnya dipersempit pada misi patriotik, bukan perang saudara.
Ketiga, PM seharusnya langsung menghubungi perwira tinggi di sektor udara dan laut untuk memastikan rantai komando berjalan. Jika perlu, ia bisa menunjuk komandan baru yang lebih netral dan memiliki kepercayaan dari semua pihak, sehingga pasukan tidak tercerai-berai. Koordinasi langsung sangat penting agar mereka tidak merasa ditinggalkan.
Keempat, komunikasi dengan oposisi juga krusial. Begitu ada kontak dengan pasukan yang masuk ke Hama atau Daraa, PM bisa menyepakati “garis merah” bersama bahwa sektor pertahanan strategis tidak boleh disentuh. Artinya, meskipun pemerintahan beralih, radar, pelabuhan, kapal, dan sistem rudal tetap dijaga untuk kepentingan bersama. Itu akan memberi sinyal bahwa transisi berjalan dewasa, bukan balas dendam.
Kelima, ia perlu membentuk semacam komite transisi militer-sipil yang melibatkan perwakilan oposisi, perwira netral, dan birokrat. Komite ini bisa bertugas mengawasi agar persenjataan vital tidak dijarah atau ditinggalkan. Dengan pengawasan kolektif, rasa saling percaya bisa tumbuh di antara pihak lama dan pihak baru.
Keenam, PM juga sebaiknya mengundang pihak asing yang punya pengaruh, termasuk Rusia, untuk menjadi penjamin transisi. Dengan begitu, tidak ada alasan bagi loyalis Assad untuk membubarkan diri secara diam-diam, karena ada “mata pengawas” internasional yang bisa menuntut akuntabilitas. Rusia sendiri, bila dilibatkan, mungkin akan memaksa militer tetap beroperasi demi menjaga kepentingan mereka di Suriah.
Ketujuh, penting pula untuk memberi jaminan hukum bagi prajurit. Banyak tentara melarikan diri karena takut dihukum oleh rezim baru. Jika PM bisa menegaskan bersama oposisi bahwa tentara yang tetap bertugas di sektor strategis tidak akan dipersekusi, mereka akan lebih berani bertahan. Tanpa perlindungan hukum, rasa takut pasti lebih kuat daripada loyalitas.
Kedelapan, PM harus menekankan bahwa pertahanan udara dan laut adalah aset negara, bukan rezim. Dengan narasi nasionalis semacam ini, ia bisa menggeser persepsi tentara dari membela Assad menjadi membela Suriah. Narasi ini penting karena dapat menahan efek domino kejatuhan moral di kalangan prajurit.
Kesembilan, PM juga perlu menghindari kekacauan di level birokrasi sipil. Jika pelayanan publik tetap jalan, citra pemerintah transisi akan positif. Dengan begitu, oposisi dan masyarakat lebih percaya bahwa negara masih berdiri, sehingga tidak ada dorongan untuk membongkar habis institusi lama, termasuk militer.
Kesepuluh, pada akhirnya yang paling penting adalah kejelasan arah. Tanpa deklarasi yang lugas, tentara bingung apakah mereka sedang membela negara atau hanya tersisa dari rezim lama. Jika PM Assad terakhir bisa menegaskan posisi negara di atas segalanya, mempertahankan pertahanan udara dan laut bukan mustahil, bahkan bisa menjadi simbol rekonsiliasi awal antara pihak lama dan oposisi.
Kasus Kabul
Menariknya, apa yang seharusnya dilakukan PM Suriah di masa kejatuhan Assad punya kemiripan dengan pengalaman Afghanistan ketika Presiden Ashraf Ghani kabur dari Kabul pada 2021. Kala itu, justru bukan presiden atau perdana menteri yang mengambil alih, melainkan kepala rumah tangga kepresidenan. Tokoh inilah yang akhirnya menyerahkan kunci istana kepada Taliban secara damai, demi mencegah kerusuhan besar di ibu kota.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa dalam kondisi darurat, seseorang yang bukan bagian dari garis suksesi resmi pun bisa mengambil peran simbolis demi transisi yang lebih teratur. Kepala rumah tangga Ashraf Ghani bertindak sebagai figur administratif yang menjembatani kekosongan, meskipun tanpa legitimasi politik penuh. Namun perannya cukup penting: memastikan proses pengambilalihan istana tidak menimbulkan bentrokan berdarah.
Jika ditarik paralel dengan Suriah, seharusnya PM Assad terakhir bisa memainkan peran serupa—sebagai figur negara yang menahan kekosongan. Ia bisa menggunakan otoritas sipilnya untuk mengatur transisi, memastikan militer strategis seperti pertahanan udara dan laut tidak bubar, sambil membuka ruang bagi oposisi untuk masuk secara lebih tertib. Dengan begitu, transisi tidak terkesan kacau atau penuh sabotase.
Kasus Kabul membuktikan bahwa peran administratif sederhana, seperti menyerahkan kunci istana, bisa membawa dampak besar terhadap kestabilan. Suriah pada saat kejatuhan Assad pun memerlukan simbol semacam itu, entah berupa serah terima komando atau pernyataan resmi bahwa lembaga pertahanan tetap beroperasi di bawah nama negara, bukan rezim. Tanpa langkah simbolis, runtuhnya Damaskus otomatis menyeret jatuh semua institusi vitalnya.
Oleh karena itu, pelajaran penting dari Afghanistan adalah: jangan biarkan kekosongan total. Bahkan seorang kepala rumah tangga bisa membuat perbedaan, apalagi seorang perdana menteri. Jika ia berani mengambil posisi netral atas nama negara, transisi bisa lebih damai, militer tidak tercerai-berai, dan negara tetap punya instrumen pertahanan menghadapi ancaman luar.
Gubernur Simbolis di Suriah dan Sudan
Dua pemerintahan paralel di Libya—yakni Government of National Accord (GNA) di Tripoli dan House of Representatives (HoR) bersama Libyan National Army (LNA) di Tobruk—juga sempat melakukan hal serupa dengan model “jabatan simbolis”. Meski kendali mereka terbatas pada wilayah tertentu, keduanya tetap membentuk struktur pemerintahan yang lengkap, seolah-olah menguasai seluruh Libya.
Pemerintahan Tripoli di bawah Fayez al-Sarraj misalnya, mengumumkan daftar kementerian dan gubernur di berbagai provinsi meskipun sebagian besar wilayah timur dan selatan dikuasai LNA. Tujuannya jelas untuk menunjukkan legitimasi penuh sebagai satu-satunya pemerintahan sah, terutama di mata PBB yang memang mengakui GNA. Banyak pejabat yang ditunjuk sebenarnya tidak memiliki kontrol administratif nyata di wilayah klaimnya.
Sebaliknya, pemerintahan Tobruk yang didukung Jenderal Khalifa Haftar juga meniru pola yang sama. Mereka menunjuk pejabat gubernur dan membentuk kabinet lengkap, meski kontrol administratifnya sering hanya terbatas pada Benghazi, Sirte, dan sebagian timur Libya. Bagi Haftar, struktur simbolis ini penting untuk mengirim sinyal bahwa mereka bukan sekadar kelompok militer, melainkan pemerintahan tandingan yang sah.
Seperti kasus Suriah dan Sudan, pola di Libya menunjukkan bahwa pemerintahan paralel tidak ingin dianggap hanya sebagai kelompok wilayah. Dengan daftar gubernur dan kementerian lengkap, keduanya berusaha menampilkan diri sebagai otoritas nasional penuh, meskipun kenyataan di lapangan jauh berbeda. Daftar itu lebih banyak dipakai untuk tujuan propaganda dan diplomasi ketimbang untuk menjalankan administrasi pemerintahan secara nyata.
Akhirnya, pola ini menggambarkan satu benang merah: dalam konflik sipil, struktur pemerintahan paralel sering kali membangun “negara bayangan” yang tidak sepenuhnya berfungsi. Namun, simbolisme itu memiliki nilai politik yang besar, baik untuk menjaga legitimasi, menarik dukungan eksternal, maupun menyiapkan posisi tawar jika kelak terjadi rekonsiliasi atau perubahan rezim.














